Saturday, March 15, 2014

Panggil Saja Andre Tiga Kali



Namaku Andre, aku duduk (dan berdiri) di kelas 91, tepatnya disamping teman akrabku, Adit. Aku menyukai seni otomotif, aku suka motor, teknik mesin, dan mengetahui banyak tentang itu. Temanku Aris dan Adit adalah seperti saudara bagiku. Mereka sering memperlihatkan jawaban pr, terkadang aku mengambilnya tanpa izin.

Aku menyukai seorang wanita di kelas 94, namanya Khusnul. Entah jin darimana aku bisa mengenalnya lebih akrab. Khusnul itu orangnya baik, sopan, tidak banyak tingkah, walau terkadang menyebalkan. Aku dan Khusnul sering pulang sekolah bersama atau sekadar mengobrol di samping sekolah hingga bel berbunyi. Hari itu aku sangat senang karena tak ada tugas, jadi aku bisa duduk santai atau menjahili teman. Namun sebaliknya dengan si pesek Khusnul, dia kerepotan karena bukunya tinggal, padahal hari ini tugas harus segera dikumpulkan. Kebetulan aku sedang lewat di depan kelasnya, melihat wajahnya penuh kekhawatiran. "kamu kenapa?" tanyaku. "ah, tidak apa-apa" jawabnya. Dari sorot matanya aku tahu bahwa dia sedang khawatir, lantas kutanya pada temannya "kenapa Khusnul, kok sedih banget?", tanyaku. "oh bukunya tinggal, padahal tugasnya dikumpul hari ini" jawab seorang temannya. Aku baru ingat, rasanya aku membawa tugas itu hari ini, aku bergegas menuju kelas dan kucari di dalam tasku ternyata ada dan langsung ku berikan kepada Khusnul. "panggil saja namaku Andre" kataku kepada Khusnul. Khusnul hanya tersenyum.

Esoknya aku pergi sekolah dengan semangat, tak ada keraguan sedikit pun, aku bangun selesai makan, memakai  pakaian kebanggaanku "Putih Biru" dan pamit kepada Ibuku. Tetapi ibuku heran dan berkata "Ini kan hari Minggu, Ndre. Kenapa kamu sekolah?". aku hanya tertunduk malu. Siangnya aku bertemu nenek yang ingin menyeberang jalan, nenek itu terlihat lesu dan membawa banyak barang belanjaan. Aku bergegas menghampirinya dan menolongnya. Akhirnya nenek itu pun menyeberang jalan dengan selamat dan aku membawa barang bawaannya. "Terima kasih ya, Cu. Kamu memang anak yang baik" ucap sang nenek. "tenang nek, sebut saja nama Andre dua kali kalau nenek butuh bantuan" jawabku dengan penuh semangat. huh, sungguh hari yang melelahkan.

Langit sudah jingga, waktunya bermain futsal. Kebetulan di sana ada turnamen bola, aku pun ikut. Aku satu tim dengan Aris dan Adit. Banyak sekali orang yang menonton, seperti turnamen saja, pikirku dalam hati. Inilah efek kalau sudah ada jiwa semangat, aku jadi tambah semangat bermain karena ditonton banyak orang. pertandingan pun dimulai, taktik kami sepertinya gagal. Aku tak mendapatkan bola, dan kami kebobolan 2 - 0 di babak pertama. Kami menyusun strategi untuk mengalahkan tim lawan, hasilnya pada babak kedua umpan silang dari Adit mengenai kakiku dan gooooool! penonton pun bersorak. Skor sementara berubah menjadi 2 - 1. Kami kembali bersemangat, umpan terobosan dari kakiku langsung diambil oleh Aris dan dengan sentuhan emasnya dapat menciptakan gol ke dua dengan selang waktu 10 menit. Perlawanan pun semakin sengit, pemain lawan menendang ke gawang kami tetapi untunglah hanya mengenai mistar gawang dan berhasil ditangkap oleh kiper. Bola kembali bergulir di kaki Aris, dia menggiring bola umpan satu dua denganku dan aku pun dijatuhkan pemain lawan di daerah penalti. Ah, rupanya benar, terjadi penalti. Aku bertindak sebagai eksekutor, dengan sentuhan kaki kiriku bola melambung ke sudut kanan atas gawang dan goooool! kedudukan 3 - 2 untuk keunggulan tim kami di sisa 5 menit terakhir.

Dan wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan dengan kedudukan 3 - 2 untuk tim kami, aku pun berkata pada Aris dan Adit, "kalau butuh bantuan panggil saja Andre tiga kali". Mereka pun tertawa dan kami pulang bersama-sama dengan hati gembira.

Contoh Cerpen: Pengorbanan Orangtua


Di sebuah desa, ada seorang anak yang benama Alfi. Alfi dikenal sebagai anak yang pemurung dan suka mengeluh. Pada suatu ketika, ia melihat teman-temannya mempunyai HP, dengan rasa kecewa dan berat hati,ia pulangke rumah dan membujuk kedua orangtuanya untuk membelikannya Handphone. Sebenarnya orangtua Alfi tergolong kurang mampu. Masalah mengisi perut saja masih dibantu tetangga. "Pak, Bu, pokoknya bagaimana pun caranya apapun  caranya, Bapak dan Ibu harus membelikan saya Handphone." ucap Alfi. "Tapi, Nak. Untuk makan saja kita susah, apalagi mau beli Hp." ucap sang ibu menjelaskan kepada Alfi. "Sudahlah, Bu. kita ebelikan saja Hp itu daripada anak kita tidak sekolah. kita tentu tidak ingin anak kita susah seperti orangtuanya." tegas sang ayah                                         
                                                       
     Keesokan harinya, sang ayah mencarikan pinjaman uang ke tetangga. "Assalamu'alaikum, Pak. saya ini sedang butuh uang, ya kira-kira Rp. 600.000,-. Tolong pak, insya allah akan saya bayar." kata sang Ayah. begitulah dia meminjam uang dengan berat hati kepada tetangga hanya demi anaknya, Alfi.

     Dengan senang hati mereka pergi ke kota nan jauh dengan harapan agar anaknya mau untuk sekolah setelah mereka membeli Hp. mereka berpesan kepada Alfi agar dia mau bersekolah dan rajin belajar agar bisa menjadi orang yang berguna kelah.

     Tibalah mereka berdua di kota. mereka berangkat ke toko Hp, mereka memilih Hp yang bagus dan cocok untuk anaknya, lalu mereka buat kado dengan hiasan dan pita-pita nan indah, disana tertulis "untuk anakku, rajin belajar ya, Nak!"

     "Bu, kado ini sudah kita hias dengan rapi. indah sekali, tapi perjuangannya sulit. Bahkan bapak berhutang banyak kepada tetangga. semoga Alfi senang dan mau bersekolah." ujar sang ayah. "Semoga saja, Pak." ujar Ibu Alfi dengan penuh harapan. Mereka pun pulang ketika sang jingga mulai menggantikan birunya langit. Mereka berharap anaknya akan senang. namun naas, takdir berkata lain, di tengah perjalanan kedua orangtua Alfi kecelakaan menabrak sebuah truk. Innalillahi wa innailaihi roji'un nyawa mereka tak tertolong dan dibawa ke puskesmas kecamatan.

     Mendengar kabar itu, sang anak berlari. dia berlari sekuat ia bisa menuju puskesmas di kecamatan yang jaraknya tak begitu jauh. Terlambat, kedua orangtuanya telah terbujur kaku. tak dapat ia menolah kenyataan. di meja yang terletak di jasad almarhum dan almarhumah kedua orangtuanya, dilihatnya sebuah kado kecil tertata rapi dan indah tertuliskan nama dan nasehat terakhir orangtuanya. Alfi menangis, tapi tangisannya itu sia-sia. "Saya tidak butuh Hp, saya butuh nyawa orangtua saya, saya menyesal, maafkan saya. kini tak ada yang menjahitkan baju saya, menghibur saya dikala sedih, bercanda dan bermain seperti dulu, tak akan ada hidangan lezat ketika nanti aku pulang sekolah. Hp ini akan menjadi cambuk bagiku, andai waktu dapat diulang."

     Dan terlepas dari semua itu, hari demi hari telah terlewati. Kini Alfi telah bangkit dari keterpurukan dan merubah dirinya menjadi anak yang baik, tak lagi pemurung dan tak memaksakan kehendaknya lagi. Kini Alfi berjuang membanggakan orangtuanya yang kini telah berada tenang di surga.

Hak cipta cerpen karya M. Aditya Ade Pratama
dilarang keras copy & paste tanpa izin penulis
ciptakanlah kreativitasmu sendiri